top of page
Search

Sosiopat vs Psikopat, Lebih Bahaya Mana?


"Sosiopat dan Psikopat itu TIDAK SAMA!"

Sosiopat vs psikopat, seksian mana? Eit, salah! Ketemu lagi, sobat Obrolin Aja. Walau pernah mendengar isitilah sosiopat dan psikopat, banyak yang salah mengartikannya. Apalagi terkait bahayanya!


Tenang, psikolog Obrolin Aja akan memberi ciri-ciri sosiopat, ciri-ciri psikopat, dan lebih bahaya mana sosiopat atau psikopat! Baca di bawah~

 

Sosiopat vs Psikopat, Lebih Bahaya Mana?


1. Lingkungan vs Genetik

Sosiopat adalah gangguan kepribadian di mana orang bersikap anti-sosial dan melanggar hukum akibat berbagai faktor.


Psikopat adalah gangguan kepribadian akibat kelainan fungsi otak, yang membuat seseorang sulit atau bahkan tidak bisa merasakan empati, ditambah emosi lainnya.


Eits, tapi bukan berarti teman kamu yang penyendiri itu sosiopat ya. Sosiopat juga beda dengan psikopat, jadi jangan asal sebut istilahnya!


Perilaku sosiopat itu ditumbuhkan. Umumnya perilaku ini terbentuk karena trauma masa kecil, seperti diabaikan orang tua, dibully teman, kecelakaan, dsb.


Perilaku psikopat itu dari lahir. Karena ada kelainan otak, mereka tidak bisa merasakan emosi seperti kebanyakan orang dan dianggap aneh.


Tentu bukan berarti orang terlahir psikopat itu otomatis kriminal ya; tapi perlu perawatan agar sembuh dan bisa merasakan empati seperti orang lain.


Sosiopat juga bukan dari sananya, tapi terbentuk oleh lingkungan mereka, terutama saat kecil. Jangan main-main dengan pendidikan anak, ya!


2. Empatis vs Tidak Punya Perasaan

Sosiopat dan psikopat cenderung berperilaku negatif dan menyimpang, tapi ada perbedaan mendasar di antara keduanya.


Sosiopat itu masih memiliki empati, walau sedikit. Mereka bisa merasa bersalah, tidak enak hati, simpati, dll walau tidak sebanyak orang biasa.


Seorang sosiopat hanya akan merasa ragu sejenak sebelum memukul temannya, tapi itu bukti kalau dia masih memiliki perasaan.


Psikopat sebaliknya; sulit sekali merasakan empati, seperti tidak punya perasaan. Saat bertindak buruk, mereka tidak merasa bersalah atau bereaksi seperti orang banyak.


Entah mereka terus melakukan perbuatan itu tanpa ragu, atau bingung kenapa orang tidak suka. Kelainan otak membuat mereka tidak bisa paham!


Jadi walau sosiopat masih bisa dibujuk (walau sulit, kayak gacha), psikopat tidak bisa.


3. Kriminal vs Diam

Kebalikan dengan yang sering kita lihat di film-film, yang banyak berbuat kriminal justru sosiopat!


Psikopat bisa berbuat kriminal juga, dan bahkan lebih berbahaya karena tanpa ragu-ragu… Tapi itu jarang terjadi, beda dengan film.


Sosiopat justru lebih mudah bertindak kriminal karena masih punya empati. Entah marah pada dunia, benci pada seseorang, dsb, sosiopat bertindak karena perasaan itu.


Psikopat jarang bertindak kriminal karena syaraf perasaannya mati. Baik dijahati atau dibantu, psikopat tidak merasa apa-apa!


Psikopat acuh tah acuh. Dia pikir: kenapa aku harus membalas (kebaikan/kejahatan) dia? Aku nggak peduli. Buat apa? Aku nggak merasa senang atau kesal, kok.


Jadi jangan asal nuduh psikopat adalah pelaku kejahatan, ya. Sosiopat yang kelihatan lebih normal justru rentan godaan dendam atau keserakahan.


4. Dendam vs Perhatian

Motif sosiopat dan psikopat berbuat kejahatan berbeda.


Sosiopat berbuat jahat akibat trauma, baik di masa kecil atau masa kini. Dia ingin membalas sesuatu, baik dalam bentuk materi atau non-materi.


Dijahati waktu kecil? Balas dendam sama pelakunya. Tak tahan miskin? Merampok. Sering dicurangi? Tipu balik, jadi penipu yang lebih ulung!


Psikopat berbuat jahat karena… kesepian dan sakit hati. Karena sulit mengerti emosi orang lain, seorang psikopat menyakiti orang lain untuk mendapat perhatian dan berusaha ‘mengerti’.


Ingat, psikopat itu pada dasarnya sulit merasakan emosi, jadi kalau sampai seorang psikopat merasa sakit hati dan ingin balas dendam… Pasti perbuatan pelakunya buruk sekali!!


Kadang psikopat juga berbuat jahat tanpa alasan, jadi hati-hati.


5. Bisa Diukur vs Tak Terukur

Bentuk kejahatan sosiopat dan psikopat berbeda.


Sosiopat ingin puas membalas, jadi kejahatan apapun oke. Permennya dicuri? Curi permen! Dijahili? Balas lebih jahil! Dilukai? Lukai balik. Mata balas mata!


Skala kejahatan sosiopat tergantung trauma yang diterimanya, dari hal remeh seperti mencuri permen, meledek teman, sampai hal serius seperti merampok dan melukai.


Tapi psikopat beda. Begitu berbuat kejahatan, tidak jelas apa yang akan mereka lakukan. Sosiopat masih dibatasi rasa bencinya dan hukum, tapi psikopat tidak.


Bagi psikopat, menghina orang dan menusuk orang itu sama saja. Tidak bisa diprediksi, jadi jangan asal jahati orang, ya!

 

Demikian pembahasan sosiopat vs psikopat! Secara umum lebih bahaya psikopat, karena tidak jelas dan tanpa batasan. Tapi keduanya bahaya, jadi waspadalah.


Tentu, keduanya bisa sembuh dengan perawatan tepat. Jadi jangan kucilkan atau hina mereka, ya. Kami para psikolog di Obrolin Aja siap membantu~


Sumber: alodokter.com

55 views0 comments

Recent Posts

See All
Post: Blog2_Post
bottom of page